Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 April 2020

Baca:  Yohanes 19:28-30


‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.”  Yohanes 19:30


Hari ini umat Kristiani merayakan Jumat Agung yang mengingatkan kita kembali tentang betapa besar kasih dan pengorbanan Kristus, yang rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa umat manusia.  Seruan Kristus kepada Bapa,   “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”  (Markus 15:34), yang artinya:  ‘Bapaku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’, menyiratkan suatu pergumulan batin dan penderitaan badani yang teramat berat yang harus di tanggung-Nya.  Sekalipun harus mengalami aniaya dan siksaan hebat, Kristus tidak pernah melawan, seperti domba kelu yang dibawa ke pembantaian  (Yesaya 53:7).


     Kematian Kristus di Kalvari adalah bukti ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa demi menggenapi rencana Bapa  (Yohanes 3:16).  Pengorbanan-Nya ini disebut pengorbanan yang sempurna, karena Kristus mempersembahkan tubuh-Nya sendiri untuk menjadi korban penebusan dosa.  Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib,”  (1 Petrus 2:24),  Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang
yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk
menjadi Pengantara mereka.
Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh,
tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan
lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus
mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah
untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk
selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai
korban.”
  (Ibrani 7:25-27).  Sebagai Imam Besar, Kristus bukan hanya mempersiapkan korban kepada Bapa, tapi Ia sendiri yang menjadi korban persembahan tersebut.



     Adakah pemimpin, raja, atau nabi mana pun, yang melakukan seperti yang Kristus perbuat?  Tidak ada.  Sayang, banyak orang tak menghargai, malah menganggap remeh pengorbanan Kristus ini, termasuk orang Kristen sendiri, yang hanya menjadikan salib sebagai simbol belaka.  Jangan pernah sia-siakan pengorbanan Kristus ini!  “…supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.”  (1 Petrus 2:24).


Pengorbanan Kristus adalah sekali untuk selamanya!  Itu sudah menyelamatkan.

Jangan lupa follow akun media sosial @gerejamuridkristus di Instagram dan Facebook untuk informasi dan update lainnya dari Gereja Murid Kristus

Sumber Artikel

Bagikan Halaman

Renungan Lainnya