Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Agustus 2020

“Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.”  Kejadian 26:12

Semua orang pasti ingin hidupnya diberkati oleh Tuhan!  Tapi tak semua orang mau membayar harga untuk mendapatkan berkat dari Tuhan, maunya serba cepat tanpa mau mengerjakan apa yang seharusnya menjadi bagiannya.  Bagian Tuhan adalah memberkati dan menggenapi janji-Nya, sedangkan bagian kita adalah taat melakukan kehendak-Nya.

     Mari kita belajar dari kehidupan Ishak!  Ketika terjadi kelaparan yang hebat di negerinya, Ishak diperintahkan Tuhan untuk tidak pergi ke Mesir, tetapi tetap tinggal di negeri orang Filistin sebagai orang asing, sementara banyak orang berusaha untuk mencari pertolongan ke Mesir.  Mesir berbicara tentang dunia atau orang yang bisa dibanggakan dan diandalkan.  “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”  (Yeremia 17:5).  Ketika mengalami masalah yang berat, banyak orang menjadi tertekan dan kehilangan pengharapan, mereka mulai ragu akan kuasa Tuhan dan tidak sabar menantikan pertolongan Tuhan.  Mereka berusaha mencari pertolongan instan di luar Tuhan:  mencari pertolongan kepada dunia atau manusia.  Ketika sedang dalam pergumulan hidup yang berat haruslah kita semakin mendekat kepada Tuhan, mencari wajah-Nya, dan tetap taat.  Ketika diperintahkan Tuhan untuk tidak pergi ke Mesir, Ishak taat.  Bahkan di tengah kelaparan yang begitu hebat Tuhan justru mengajarkan Ishak untuk menabur.  Suatu perintah yang sangat tidak masuk akal!  Namun Ishak melakukan yang Tuhan perintahkan  (ayat nas), dan ketaatan inilah yang menjadi pembuka pintu berkat!

     Alkitab menyatakan,  “…ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.”  (Kejadian 26:12-13).  Tuhan memberkati Ishak dengan limpahnya sehingga ia mengalami tiga tingkatan berkat:  kaya, tambah kaya, dan sangat kaya, namun setelah hidupnya diberkati, Ishak tidak lupa diri:  “Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN.”  (Kejadian 26:25).  Ishak menjadikan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidupnya.

Kita pasti mengalami berkat-berkat Tuhan ketika kita taat melakukan kehendak Tuhan, mau menabur, dan menjadikan Dia sebagai prioritas utama hidup ini!

Catatan:

“‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas
kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’ Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.”
  Roma 9:15-16

Jangan lupa follow akun media sosial @gerejamuridkristus di Instagram dan Facebook untuk informasi dan update lainnya dari Gereja Murid Kristus

Sumber Artikel

Bagikan Halaman

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Renungan Lainnya