Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 November 2020

Baca:  1 Raja-Raja 7:1-12

Tembok dari semuanya ini dibuat dari batu yang mahal-mahal, yang sesuai
dengan ukuran batu pahat digergaji dengan gergaji dari sebelah dalam dan
dari sebelah luar, dari dasar sampai ke atas, dan juga dari tembok luar
sampai kepada tembok pelataran besar.”
  1 Raja-Raja 7:9

Ketika hendak membangun rumah, pasti diperlukan batu-batu yang berkualitas bagus, bukan sembarang batu.  Contohnya adalah ketika tempat kediaman Salomo dibangun, batu yang digunakan adalah batu-batu yang berkualitas dan berharga mahal.  Namun demikian batu-batu itu tidaklah bernyawa alias benda mati.  Berbeda dengan tempat kediaman Tuhan  (Bait Suci Tuhan)  yang adalah lambang kehadiran Tuhan.  Bait Tuhan dibangun bukan dengan batu-batu mati, tetapi dengan batu-batu hidup, yaitu kumpulan orang-orang percaya  “…sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani…”  (1 Petrus 2:5).

     Sebuah batu hidup adalah unit tunggal sebelum ia dipersatukan dengan batu-batu hidup lain, untuk menjadi satu kesatuan sebagai bagian dari pembangunan rumah rohani.  Yesus berkata,  Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang
kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di
dunia ini akan terlepas di sorga.”
  (Matius 16:18-19).  Saat ini masih banyak  ‘batu-batu’  yang tercerai berai di sana-sini, tak menyatu.  Dapatkah kita membangun sebuah rumah, bila batu-batu yang hendak kita pergunakan terpencar, tercerai-berai, dan tidak karuan?  Untuk bisa dipakai sebagai batu hidup bagi pembangunan rumah rohani, batu-batu itu harus menyatu, terkumpul, dan kemudian dibangun di atas batu yang lain.  Dari situlah kita akan tahu bahwa batu-batu itu telah berfungsi di tempat yang seharusnya.  Jika batu-batu itu tetap sebagai batu tunggal, ia tidak dapat berfungsi.

     Sebagai batu yang hidup kita harus berada di tempat yang tepat, yaitu di area pembangunan rumah Tuhan.  Terkadang kita harus siap untuk dihaluskan dan dipertajam lagi supaya bisa  ‘pas’  dengan tempat kita.

Orang percaya takkan berfungsi maksimal bagi rumah Tuhan bila berjalan sendiri-sendiri!

Jangan lupa follow akun media sosial @gerejamuridkristus di Instagram dan Facebook untuk informasi dan update lainnya dari Gereja Murid Kristus

Sumber Artikel

Bagikan Halaman

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Renungan Lainnya